IMPIAN SAYA, SEBELUM SAYA WAFAT, INDONESIA MEMILIKI SERIBU KAMPUNG SAHABAT!

Tekad ini dinyatakan oleh Ustaz Bendri Jaisyurrahman yang lebih akrab disapa Ajo Bendri. Tentunya, perjalanan seribu kilometer tetap harus diawali dengan satu langkah permulaan. Inilah yang disadari oleh Ajo Bendri. Oleh karena itu, ia memulai impiannya dengan membuat Kampung Sahabat pertama di lingkungan tempat tinggalnya di Bambu Apus, Jakarta Timur.

Ustaz Bendri Jaisyurrahman

“Kita ingin membina warga satu kampung. Selama ini peran lingkungan dalam membina anak itu kurang. Kita lebih banyak menyerahkan tugas ini ke sekolah, lebih banyak menyerahkan ke rumah, padahal lingkungan itu adalah institusi yang paling berpengaruh. Sayangnya, bapak-bapak dan ibu-ibu di lingkungan tidak menjalankan peran itu,” tutur Ajo Bendri yang juga dikenal sebagai pegiat parenting.

Ajo Bendri tidak sendiri dalam merumuskan konsep Kampung Sahabat. Ia berkolaborasi dengan sang istri, Mbak Anita, yang merupakan seorang psikolog, dan juga berkolaborasi dengan guru sekaligus sahabatnya, Ayah Irwan Rinaldi.

Ustaz Bendri dan istri, Mbak Anita.

Ayah Irwan menegaskan bahwa institusi pendidikan itu ada tiga yakni rumah, sekolah, dan lingkungan. Lingkungan memang tidak mengajarkan secara pedagogis tapi memiliki peran yang sangat penting. Untuk menjalankan peran yang sangat penting ini perlu diciptakan sebuah lingkungan yang bersahabat, nyaman, dan ideal. “Lingkungannya dididik dahulu. Lingkungan akan memberikan ambience yang bagus sehingga menjadi sekolah yang luar biasa,” tegas Ayah Irwan.

Ayah Irwan Rinaldi, pegiat parenting yang masa mudanya aktif di panggung teater.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ajo Bendri. “Kita kepikiran bagaimana bukan membuat sekolah di lingkungan tapi mensekolahkan lingkungan,” ungkap ustaz asal Pariaman, Sumatera Barat, ini.

Akhirnya, pada 2015, Kampung Sahabat pun berdiri di Bambu Apus. Banyak mentor dari Yayasan Langkah Kita ikut membantu, salah satunya adalah Neneng Kurnia, yang juga turut membidani lahirnya Kampung Sahabat di Pinang Ranti, Jakarta Timur.

Pintu masuk Kampung Sahabat Bambu Apus.

“Kita pakai pendekatan sentuh hati,” tutur perempuan yang akrab disapa Teh Neneng ini. Pendekatan inilah yang menjadi fondasi pendidikan di Kampung Sahabat. Mereka percaya bahwa semua individu adalah bintang, hanya saja ada yang belum bersinar, ada yang masih redup sinarnya, ada juga yang sudah terang benderang. Untuk itulah di dalam sebuah lingkungan semuanya harus bekerja sama agar setiap individu bisa bersinar terang bersama-sama, tentunya dalam naungan nilai-nilai Islam, seperti slogan yang mereka gaungkan: SHOLEH BARENG-BARENG ITU HEBAT!

Teh Neneng Kurnia, juga aktif membina Kampung Sahabat Pinang Ranti.

Proses pun dimulai. Langkah pertama adalah membuat acara satu kali dalam sepekan. Anak-anak dikumpulkan lalu melakukan kegiatan positif bersama-sama. Setelah berjalan lancar, dimulailah langkah kedua yakni menambah kuantitas pertemuan, menjadi 3 sampai 4 kali dalam sepekan, lalu mulai diadakan taman baca.

Anak-anak Kampung Sahabat.

Pada langkah ketiga, para orang tua mulai diajak untuk terlibat. Mereka membentuk program Dapur Kampung Sahabat. Setiap Sabtu, para ibu dan remaja melakukan masak bersama lalu hasil masakannya dibagikan kepada warga secara gratis. Selain itu, dibuat pula program bulanan yang diberi nama POTKES (Paguyuban Orang Tua KampoEng Sahabat). Acaranya berupa kajian parenting, memberikan bekal ilmu kepada bapak-bapak dan ibu-ibu untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.

Para remaja juga mulai dilibatkan dalam langkah ketiga ini, ditandai dengan pembentukan organisasi remaja TEMAN REKAT (REmaja Kampung sahabAT). Salah satu program andalan barisan remaja ini adalah Festival Kampung Sahabat yang sudah diselenggarakan 3x sejak tahun 2023.

Remaja Kampung Sahabat.

Alhamdulillah, perjuangan yang sudah dirintis sejak 2015 ini mulai membuahkan hasil. “Saya melihatnya baru tahap awareness. Apakah orang berubah jadi lebih baik? Mungkin belum. Tapi, sekarang sudah mulai terlihat, tetangga peduli kepada tetangga yang lain,” tutur Ayah Irwan.

Kepedulian ini dapat terlihat salah satunya dalam program Dapur Kampung Sahabat. Warga sudah mulai mau antri untuk mendapatkan makanan gratis. Bahkan, ketika ada  warga yang lebih membutuhkan, yang lain akan mengalah dengan mendahulukan warga tersebut. “Kalau ada yang sepuh, diduluin. Selama ini kepedulian seperti itu tidak ada di warga. Kalau ada makanan, pada berebut,” lanjut Ayah Irwan.

Ibu-ibu Dapur Kampung Sahabat sedang beraksi.

Para orangtua juga sudah mulai peduli kepada anak-anak di Kampung Sahabat. Mereka memperlakukannya seperti anak sendiri. Ayah Irwan meyakini bahwa ketika sudah ada rasa peduli, barulah para orang tua akan membutuhkan ilmu yang lebih dalam lagi.

“Tahap berikutnya baru tahap edukasi. Ketika sudah ada peduli, pasti warga membutuhkan ilmu, ilmu mengasuh seperti apa. Kita akan buat kajian yang lebih khusus, selama ini kan kajiannya baru bersifat ceramah umum saja,” tutur pria yang masa mudanya aktif di panggung teater ini.

Generasi remaja Kampung Sahabat juga sudah terlihat perubahan. “Yang mabok jadi nggak mabok lagi, bahkan jadi mau sholat, jadi mau aktif di masyarakat,” ujar Teh Neneng. Ayah Irwan menambahkan bahwa jumlah remaja yang merokok juga mulai berkurang. Mereka justru jadi saling mengingatkan supaya tidak merokok lagi.

Para Remaja bekerja sama menyiapkan Festival Kampung Sahabat 2025.

Ke depannya, yang akan menjadi langkah keempat, para founder dan penggerak Kampung Sahabat bercita-cita membuat baitul maal dan juga koperasi. Untuk langkah kelima, yang dicita-citakan adalah para remaja dan orang tua di Kampung Sahabat Bambu Apus dan Pinang Ranti sudah bisa menjadi trainer untuk pembentukan kampung sahabat yang lain. Oleh karena itulah, mereka membuat Festival Kampung Sahabat dengan harapan mengajak orang-orang dari wilayah lain untuk datang dan melihat kemudian menjadi tergerak untuk membentuk kampung sahabat di wilayah mereka sendiri. Inilah yang menjadi langkah kelima yang akan ditempuh oleh rekan-rekan di Kampung Sahabat Bambu Apus dan Pinang Ranti.

“Kita ingin mencetak, meng-copy kampung sahabat di tempat yang lain. Impian saya, sebelum saya wafat, Indonesia memiliki seribu kampung sahabat!” tutur Ustaz Bendri. 

Tentu ini bukan sebuah perjuangan yang mudah. Ketika jumlah kampung sahabat bertambah satu, bukan berarti tugas para pejuang di kampung sahabat yang sebelumnya sudah berakhir. Akan tetapi para pejuang ini akan terus berjuang bersama-sama, saling berkoordinasi, untuk membimbing warga kampung sahabat di wilayah masing-masing.

“Karena setiap hari pasti selalu ada masalah, di setiap rumah pasti ada masalah. Ini pekerjaan maraton yang nggak ada garis finisnya,” tutur Ayah Irwan. 

Penutupan Festival Kampung Sahabat 2025. Figur publik Shireen Sungkar, Irish Bella, Ade Jigo, Henry Chan, dan Ustaz Hadi Nur Ramadhan turut berpartisipasi. Festival ini diharapkan bisa memicu lahirnya kampung-kampung sahabat di wilayah seluruh Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari Kabar Baik

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

By maly asooy

Seorang lelaki yang dulu sangat membenci pelajaran mengarang di sekolah. Namun, perkenalannya dengan Teater 35, menemukan suatu kegembiraan baru dalam menulis. Bahkan, sepak terjangnya sebagai penulis membawa lulusan FISIP UI ini turut berperan dalam memecahkan rekor MURI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *